kEPENDUDUKAN DI INDONESIA   Leave a comment


1.PENDAHULUAN

Penduduk atau warga suatu negara atau daerah bisa didefinisikan menjadi dua:

  • Orang yang tinggal di daerah tersebut
  • Orang yang secara hukum berhak tinggal di daerah tersebut. Dengan kata lain orang yang mempunyai surat resmi untuk tinggal di situ. Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi memilih tinggal di daerah lain.

Dalam sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu.

Masalah-masalah kependudukan dipelajari dalam ilmu demografi. Berbagai aspek perilaku menusia dipelajari dalam sosiologi, ekonomi, dan geografi. Demografi banyak digunakan dalam pemasaran, yang berhubungan erat dengan unit-unit ekonmi, seperti pengecer hingga pelanggan potensial.

Setiap Negara mempunyai masalah di bidang kependudukan. Masalah kependudukan yang dihadapi suatu negara berbeda dengan negara yang dihadapi negara lain.

Dari hasil sensus penduduk tahun 1990 jumlah penduduk Indonesia adalah

179,4 juta. Berarti Indonesia termasuk negara terbesar ke tiga di antara negaranegara

yang sedang berkembang setelah Gina dan India.Dibanding dengan jumlah

sensus tahun 1980 maka akan terlihat peningkatan penduduk Indonesia rata-rata

1,98% pertahun. Berdasarkan hasil proyeksi penduduk, jumlah penduduk Indonesia

pada tahun 1995 sebanyak 195,3 juta jiwa.

Bila dilihat dari luas wilayah pada peta penyebaran penduduknya terlihat

tidak merata di 27 propinsi. Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 1990 sekitar

60% penduduk tinggal di pulau Jawa, padahal luas pulau Jawa hanya 7% dari luas

wilayah Indonesia. Dilain pihak pulau Kalimantan yang luas wilayahnya hanya

ditempati oleh 5% dari jumlah penduduknya.

Kondisi tersebut menunjukan bahwa kepadatan penduduk Indonesia tidak

seimbang. Kondisi tersebut memerlukan upaya pemerataan dan upaya tersebut telah

dilaksanakan melalui program transmigrasi dan gerakan kembali ke Desa.

Dilihat dari tingkat pertambahan penduduknya Indonesia masih tergolong

tinggi, hal ini bila tidak diupayakan pengendalianya akan menimbulkan banyak

masalah.

Di Indonesia dari tingkat partisipasi anak usia sekolah baru mencapai 53%

meskipun wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun telah dicanangkan oleh

pemerintah. Dibanding negara tetangga, tingkat partisipasi pendidikan kita tergolong

rendah. Hongkong misalnya tahun 1985 telah mencapai 95%, Korea Selatan 88%

dan Singapura telah mencapai 95 % (Surabaya Post, 2 Oktober 1995).

Masalah-masalah lain seperti ketenagakerjaan 77% angkatan kerja masih

berpendidikan rendah. Dampaknya terhadap pendapatan perkapita yang pada

gilirannya akan berpengaruh terhadap kualitas hidup. Juga terhadap kehidupan

rumah tangga seperti perceraian dan perkawinan yang akan berpengaruh terhadap

angka kelahiran dan kematian yang dalam banyak hal dijadikan indikator bagi

kesejahteraan suatu negara.

Nampaknya sederhana, tetapi harus diingat bahwa manusia adalah sebagai

subjek tetapi juga sekaligus objek pembangunan sehingga bila tidak diantisipasi

mungkin pada gilirannnya akan berakibat ketidakstabilan atau kerapuhan suatu

negara.

2. MASALAH KEPENDUDUKAN DI INDONESIA

A. Masalah Akibat Angka Kelahiran

1. Total Fertility Rate (TFR)

Hasil perkiraan tingkat fertilitas (metode anak kandung) menunjukan bahwa

penurunan tingkat fertilitas Indonesia tetap berlangsung dengan kecepatan yang

bertambah seperti nampak pada tabel di bawah ini :

Periode (tahun) TFR % Penurunan/tahun

1967 -1970 5,605 1,7

1971 -1975 5,200 2,3

1976 -1979 4,680 2,8

1980 -1984 4,055 3,9

1987 -1990 3,222 2,1

Sumber : BPS Jawa Timur, 1996

Tingkat fertilitas secara keseluruhan dari periode 1981- 1984 ke periode 1986

-1989 turun sebesar 18 % atau sekitar 3,9% pertahun. Namun tingkat penurunan

fertilitas mulai melambat atara periode 1986-1989 dan 1987-1990 yaitu menjadi

2,1% rata-rata pertahun.

2. Age Spesific Fertility Rate (ASFR)

Hasil SP71 dan SP80 masih menunjukan bahwa tingkat kelahiran untuk

kelompok umur wanita 20-24 tahun adalah yang tertinggi. Namun demikian terjadi

pergeseran ke kelompok umur (25 -29) tahun pada hasil SP80 dan ini akan

memberikan dampak terhadap penurunan tingkat gfertilitas secara keseluruhan

(Trend Fertilitas, Mortalitas dan Demografi, 1994: 18)

Berdasarkan dua kondisi di atas dapatlah disebutkan beberapa masalah (terkait

dengan SDM) sebagai berikut :

1) Jika fertilitas semakin meningkat maka akan menjadi beban pemerintah dalam hal

penyediaan aspek fisik misalnya fasilitas kesehatanketimbang aspek intelektual.

2) Fertilitas meningkat maka pertumbuhan penduduk akan semakin meningkat tinggi

akibatnya bagi suatu negara berkembang akan menunjukan korelasi negatif

dengan tingkat kesejahteraan penduduknya.

Jika ASFR 20- 24 terus meningkat maka akan berdampak kepada investasi SDM

yang semakin menurun.

B. Masalah akibat Angka Kematian

Selama hampir 20 tahun terakhir, Angka Kematian Bayi (AKB) mengalami

penurunan sebesar 51,0 pada periode 1967-1986. Tahun 1967 AKB adalah 145 per

1000 kelahiran, kemudian turun menjadi 109 per 1000 kelahiran pada tahun 1976.

Selama 9 tahun terjadi penurunan sebesar 24,8 persen atau rata-rata 2,8 persen per

tahun. Berdasarkan SP90, AKB tahun 1986 diperkirakan sebesar 71 per 1000

kelahiran yang menunjukan penurunan sebesar 34,9 persen selama 10 tahun

terakhir atau 3,5 persen pertahun (Trend Mortalitas, 66).

Tabel Perkiraan Angka Harapan Hidup (AHH)

Tahun Nilai

SP1971 45,7

SP 1980 52,2

SP 1990 59,8

Sumber: BPS Jatim, 1996.

Sejalan dengan penurunan AKB, AHH menunjukan kenaikan. Pada tahun

1971 AHH adalah 45,7 yang kemudian naik 6,5 tahun menjadi 52,2 pada SP80 dan

mengalami kenaikan 7,6 menjadi 59,8 pada SP90.

Masalah yang muncul akibat tingkat mortalitas adalah :

1) Semakin bertambahnya Angka Harapan Hidup itu berarti perlu adanya peran

pemerintah di dalam menyediakan fasilitas penampungan.

2) Perlunya perhatian keluarga dan pemerintah didalam penyediaan gizi yang

memadai bagi anak-anak (Balita).

3) Sebaliknya apabila tingkat mortalitas tinggi akan berdampak terhadap reputasi

Indonesia dimata dunia.

Pemecahan masalah angka kelahiran dan kematian :

a) Kelahiran

Angka kelahiran perlu ditekan melalui :

! Partisipasi wanita dalam program KB.

! Tingkat pendidikan wan ita wanita mempengaruhi umur kawin pertama dan

penggunaan kontrasepsi.

! Partisipasi dalam angkatan kerja mempunyai hubungan negatif dengan

fertilitas

! Peningkatan ekonomi dan sosial.

b) Kematian

Angka kematian perlu ditekan :

! Pelayanan kesehatan yang lebih baik

! Peningkatan gizi keluarga

! Peningkatan pendidikan (Kesehatan Masyarakat)

C. Masalah Komposisi Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan hasil sensus tahun 1990 berjumlah

179246785 dari jumlah tersebut komposisi usianya tidak berimbang yang

menyebabkan timbulnya masalah-masalah baru.

Katagori Berdasarkan Usia Sebagai Berikut :

U S I A (Thn) Jumlah (Jiwa)

0 – 4 20.985.144

5 – 9 23.223.058

10 – 14 21.482.141

15 – 19 18.926.983

20 – 24 16.128.352

25 – 29 15.623.530

30 – 34 13.245.794

35 – 39 11.184.217

40 – 44 8.081.636

45 – 49 7.565.664

50 – 54 6.687.586

55 – 59 4.831.697

60 – 64 4.526.451

65 – 69 2.749.724

70 – 74 2.029.026

>75 4.415

Sumber : Kantor BPS Jawa Timur

Berdasarkan angka-angaka tersebut tampak penumpukan jumlah penduduk

pada usia muda, yaitu usia 0 -4 tahun berjumlah 20985144 jiwa, usia 5-9 tahun

sebesar 23223058 jiwa dan 10 -14 tahun 21428141 jiwa yang mana pada usia

tersebut belum produktif masih tergantung pada orang-orang lain terutama

keluarga.

Masalah-masalah yang dapat timbul akibat keadaan demikian adalah :

1) Aspek ekonomi dan pemenuhan kebutuhan hidup keluarga. Banyaknya beban

tanggungan yang harus dipenuhi biaya hidupnya oleh sejumlah manusia

produktif yang lebih sedikit akan mengurangi pemenuhan kebutuhan ekonomi

dan hayat hidup.

2) Aspek pemenuhan gizi.

Kemampuan ekonomi yang kurang dapat pula berakibat pada pemenuhan

makanan yang dibutuhkan baik jumlah makanan (kuantitatif) sehingga dampak

lebih lanjut adalah adanya rawan atau kurang gizi (malnutrition). Pada gilirannya

nanti bila kekurangan gizi terutama pada usia muda ( 0 -5 tahun). Akan

mengganggu perkembangan otak bahkan dapat terbelakang mental ( mental

retardation ). Ini berarti mengurangi mutu SDM masa yang akan datang.

3) Aspek Pendidikan

Pendidikan memerlukan biaya yang tidak sedikit, sehingga diperlukan dukungan

kemampuan ekonomi semua termasuk orang tua. Apabila kemampuan ekonomi

kurang mendukung maka fasilitas pendidikan juga sukar untuk dipenuhi yung

mengakibatkan pada kualitas pendidikan tersebut kurang

4) Lapangan Kerja

Penumpukan jumlah penduduk usia muda atau produktif memerlukan persiapan

lapangan kerja masa mendatang yang lebih luas. Hal ini merupakan bom waktu

pencari kerja atau penyedia kerja. Apabila tidak dipersiapkan SDMnya dan

lapangan kerja akan berdampak lebih buruk pada semua aspek kehidupan.

Alternatif Pemecahan yang diperlukan :

(a) Pengendalian angka kelahiran melalui KB.

(b) Peningkatan masa pendidikan.

(c) Penundaaan usia perkawinan

D. Masalah Kependudukan dan Angkatan Kerja.

Penduduk usia kerja didefinisikan sebagai penduduk yang berumur 10 tahun

keatas. Mereka terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja (BPS :

1994,30). Penduduk yang tergolong angkatan kerja dikenal dengan Tingkat

Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK).

TPAK menurut umur mengikuti pola huruf “U” terbalik. Angkatan rendah pada

usia-usia muda karena sekolah, kemudian naik sejalan kenaikan umur sampai

mencapai 25 -29 tahun, kemudian turun secara perlahan pada umur-umur

berikutnya (antara lain karena pensiun).

Angka kesempatan kerja yang merupakan pebandingan antara penduduk

yang bekerja dengan angkatan kerja pada tahun 1993 cukup tinggi yaitu sekitar

97,2%. Ini berarti angka penganguran kurang lebih hanya 2,8 0/00 (BPS:1994,30).

Berdasarkan hasil sensus tahun 1994 jumlah TPAK sebesar 19.254.554

(Sensus PBS; 1990,417) sedangkan jumlah penduduk mencapai 179.247.283 jiwa

sehingga TPAK meskipun mungkin termasuk angkatan kerja. Melihat rasio TPAK dan

Non TPAK tampaknya jauh tidak seimbang hal ini kemungkinan dapat menyebabkan

masalah antara lain:

(a) Produktifitas yang dihasilkan oleh sebagian kecil manusia kemungkinan bisa

habis dikonsumsi sebagian besar penduduk.

(b) Pendapatan perkapita akan rendah sehingga berpengaruh pada sektor ekonomi

masyarakat.

Alternatif Pemecahan Masalah :

(a) Penyediaan lapangan kerja

(b) Peningkatan mutu SDM melalui pendidikan dan keterampilan.

E. Masalah Mobilitas Penduduk di Indonesia

Masalah migrasi penduduk di Indonesia menjadi isu politik kependudukan di

Indonesia.

Mobilitas Antar Pulau

Mobilitas antar pulau didominasi mobilitas penduduk di Pulau Jawa. Penduduk

yang keluar dari Jawa sebanyak 3,6 juta jiwa tahun 1980 dan 5,3 juta jiwa tahun

1990. Sebagian besar migrasi menuju Sumatera, yaitu 79,75% pada tahun 1980 dan

68,70% pada tahun 1990.

Migran keluar dari Pulau Sumatera tahun 1980 sebanyak 0,8 juta, dan

sebesar 92,97% menuju Pulau Jawa, sedang pada tahun 1990 sebesar 1,6 juta dan

92,62 % juga menuju Pulau Jawa. Migran dari Kalimantan sebagian besar menuju

© 2003 Digited by USU Digital Library 5

Pulau Jawa. Dari 0,2 juta jiwa pada tahun 1980 adaa 73,32% menuju Pulau Jawa

dan pada tahun 1990 ada sebanyak 0,5 juta ternyata yang 76,49 % juga menuju

Pulau Jawa. (BPS:107,110)

Dapat dimaklumi bahwa Pulau Jawa sebagai tujuan utama para migran,

karena di Pulau Jawa merupakan pusat perekonomian, pusat pendidikan, pusat

pemerintahan dan pusat kegiatan sosial ekonomi lainnya. Migran terbesar yang

masuk ke Pulau Jawa berasal dari Sumatera, karena Pulau Sumatera secara

geografis berdekatan dengan Pulau Jawa dan sistim transportasi yang

menghubungkan kedua pulau ini lebih bervariasi dan lebih banyak frekuensinya

dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya.

Mobilitas Penduduk antar Pulau Propinsi

Pola mobilitas di Jawa masih sangat besar. Di Jawa Timur jumlah pendatang

masih didominasi migran sekitarnya terutama Jawa Tengah. Keadaan ini

menunjukan bahwa pekembangan mobilitas terjadi karena peningkatan peranan lalu

lintas di Pulau Jawa dan Sekitarnya termasuk Lampung, Sumatera Selatan sebagai

akibat pertumbuhan ekonomi yang semakin cepat. Sedang migran yang keluar dari

Jawa Timur mayoritas menuju wilayah Indonesia Barat terutama Sumatera dan

daerah pusat pertumbuhan ekonomi seperti Jakarta.

Propinsi pengirim migran total terbesar adalah Jawa Tengah, yaitu 3,1 juta

jiwa pada tahun 1980 dan 4,4 juta tahun 1990. Jawa Timur sebanyak 1,6 juta pada

tahun 1980 dan 2,5 juta tahun 1990, disusul Propinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta

(BPS 1994; 111).

Mobilitas Penduduk dari Desa ke Kota

Urbanisasi pada dasarnya adalah pertumbuhan penduduk perkotaan yang

disebabkan perpindahan dari desa ke kota, dari kota ke kota, serta akibat proses

perluasan wilayah perkotaan (Reklamasi).

Permasalah yang Timbul :

Pertumbuhan penduduk perkotaan selalu menunjukan peningkatan yang

terus menerus, hal ini disebabkan pesatnya perkembangan ekonomi dengan

perkembangan industri, pertumbuhan sarana dan prasarana jalan perkotaan.

Upaya Pencegahan:

Pertumbuhan penduduk di perkotaan periode 1971-1980 jauh lebih pesat

dibandingkan dengan periode 1980-1990, hal ini disebabkan periode 1971-1980

pertumbuhan ekonomi masih terpusat didaerah perkotaan, sehingga penduduk

banyak pindah ke perkotaan untuk memperoleh penghidupan yang lebih layak.

Pada periode 1980-1990 pemeratan pembangunan mulai terasa sampai ke

daerah pedesaan. Keadaan ini memungkinkan penduduk tidak lagi membangun

daerah perkotaan, akan tetapi cendrung menciptakan lapangan pekerjaan sendiri di

pedesaan. (BPS 1994: 18).

Sejalan dengan arah pembangunan yang diharapkan persentase penduduk

perkotaan cendrung meningkat. Proyeksi yang diharapkan ada peningkatan dari

31,10 persen tahun 1990 menjadi 41,46 % pada tahun 2000.

Menurut Prigno Tjiptoheriyanto upaya mempercepat proses pengembangan

suatu daerah pedesaan menjdadi daerah perkotaan yang disesuaikan dengan

harapan dan kemampuan masyarakat setempat. Untuk itu diperlukan upaya

peningkatan jumlah penduduk yang berminat tetap tinggal di desa. Yang perlu

diusahakan perubahan status desa itu sendiri, dari desa “desa rural” menjadi “desa

urban”. Dengan demikian otomatis penduduk yang tinggal didaerahnya menjadi

“orang kota” daalam arti statistik (Surabaya Post, 23 September 19996). Guna

menekan derasnya arus penduduk dari desa ke kota, maka pola pembangunan yang

beroreantasi pedesaan perlu digalakan dengan memasukan fasilitas perkotaan ke

pedesaan, sehingga merangsang kegiatan ekonomi pedesaan.

F. Masalah Kepadatan Penduduk di Indonesia

Dilihat dari jumlah penduduknya Indonesia termasuk negara terbesar ketiga

diantara negara-negara sedang berkembang setelah Gina dan India. Hasil

pencacahan lengkap sensus penduduk 1990, penduduk Indonesia berjumlah 179,4

juta jiwa. Berdasarkan hasil proyeksi penduduk, julah penduduk pada tahun 1995

mencapai 195,3 juta jiwa.

Kepadatan di 27 Propinsi masih belum merata. Berdasarkan sensus penduduk

tahun 1990 sekitar 60% penduduk tinggal di Pulau Jawa, padahal luas Pulau Jawa

hanya sekitar 7% dari seluruh wilayah daratan Indonesia. Dilain pihak, Kalimantan

yang memiliki 28% dari luas total, hanya dihuni oleh 5% penduduk Indonesia.

Dengan demikian kepadatan penduduk secara regional juga sangat timpang,

sementara kepadatan per kilometer persegi di Pulau Jawa mencapai 814 orang, di

Maluku dan Irian Jaya hanya 7 orang (BPS, 1994:29).

Permasalahan yang timbul:

Ketidakseimbangan kepadatan penduduk ini mengakibatkan ketidakmerataan

pembangunan baik phisik maupun non phisik yang selanjutnya mengakibatkan

keinginan untuk pindah semakin tinggi. Arus perpindahan penduduk biasanya

bergerak dari daerah yang agak terkebelakang pembangunannya ke daerah yang

lebih maju, sehingga daerah yang sudah padat menjadi semakin padat.

Pemecahan Masalah:

Untuk memecahkan masalah ini dilaksanakan program pepindahan penduduk

dari daerah padat ke daerah kekurangan penduduk, yaitu program transmigrasi.

Sasaran utama program transmigrasi semula adalah untuk mengurangi

kelebihan penduduk di Pulau Jawa. Tetapi ternyata jumlah penduduk yang berhasil di

transmigrasikan keluar Jawa sangat kecil jumlahnya. Pada tahun 1953 direncanakan

100.000 penduduk, tetapi hanya sebanyak 40.000 orang yang berhasil dipindahkan

(BPS 1994:90)

Walaupun demikian, program transmigrasi sudah menunjukan hasilnya

dimana penduduk yang tinggal di Pulau Jawa turun dari 60% pada tahun 1990,

diproyeksikan menjadi 57,7% pada tahun 2000. Sebaliknya diluar Jawa

diproyeksikan akan terjadi kenaikan tahun 1990-2000. Di Pulau Sumatera naik dari

21% pada tahun 1990 menjadi 21,65 % pada tahun 2000 (BPS 1990:6-7).

G. Masalah Perkawinan dan Perceraian

Perkawinan bukan merupakan komponen yang langsung mempengaruhi

pertumbuhan penduduk akan tetapi mempunyai pengaruh yang cukup besar

terhadap fertilitas, karena dengan adanya perkawinan dapat meningkatkan angka

kelahiran. Sebaliknya perceraian adalah merupalkan penghambat tingkat fertilitas

karena dapat menurunkan angka kelahiran.

Di Indonesia status perkawinan (kawin) masih jauh lebih tinggi dibandingkan

dengan status perceraian hal ini dapat dilihat pada tabel berikut :

JENIS KELAMIN KAWIN CERAI HIDUP/MATI

Pria 25.312.260 1.322.446

Wanita 26.448.577 6.176.904

Sumber: BPS Jawa Timur, 1996

Dari data di atas memberikan gambar bahwa jumlah perkawina baik pia maupun

wanita sebesar 5.176.837 masih jauh lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah

perceraian baik cerai hidup maupun cerai mati yang hanya sekitar 7.499.340.

Masalah yang timbul akibat perkawinan antara lain:

1. Perumahan

2. Fasilitas kesehatan

Masalah yang timbul akibat perceraian meningkat adalah :

1. Sosial Ekonomi

2. Nilai agama yang lemah

Alternatif Pemecahan :

Perkawinan

1. Menambah masa lajang.

2. Meningkatkan masa pendidikan.

Peceraian :

1. Konsultasi Keluarga.

2. Pendalaman Agama.

PENUTUP

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menurut jumlah penduduknya,

Indonesia termasuk negara yang besar dan menduduki urutan terbesar ke tiga di

antara negara-negara berkembang setelah Gina dan India.

Menurut hasil sensus penduduk tahun 1990 penduduk Indonesia berjumlah

179,4 juta jiwa. Jumlah tersebut meningkat sekitar 1,98% per tahunnya.

Berdasarkan hasil proyeksi penduduk tahun 1995 adalah 195,3 juta jiwa. Dari

kondisi semacam ini timbul berbagai masalah kependudukan antara lain: Ketidak

merataan penyebaran penduduk di setiap Propinsi. Di Indonesia berdasarkan SP

1990 kurang lebih 60% penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa yang luasnya

hanya 7% dari luas seluruh wilayah Indonesia. Sebaliknya Kalimantan yang

mempunyai luas 28 persen dari seluruh daratan Indonesia hanya dihuni oleh lebih

kurang lebih 5% penduduk sehingga secara regional kepadatan penduduk sangatlah

timpang.

Tingkat pendidikan penduduk yang bekerja, tampak masih rendah di mana

tingkat pendidikan yang terbanyak adalah SD, yaitu 37,6% dari seluruh penduduk

yang bekerja. Hal tersebut menyebabkan ketidakseimbangan antara permintaan

akan tenaga kerja dengan penawaran tenaga kerja pada suatu tingkat upah

tertentu. Pada tahun 1993, dari sekitar 1,2 juta orang yang terdapat sebagal

PENCARI KERJA HANYA SEKITAR 328.000 atau 27 % yang memperoleh penempatan.

DAFTAR PUSTAKA

BPS, 1994, Profil Kependudukan Propinsi Jawa Timur, BPS, Jakarta.

BPS, 1994, Trend Fertilitas, Mortalitas dan Migrasi, BPS, Jakarta.

BPS, 1994, Proyeksi Penduduk Indonesia Per Kabupaten/Kodya 1990-2000

BPS,Jakarta

Daldjoeni N, 1986, Masalah Penduduk dalam Fakta dan Angka, Alumni Bandung

Goeltenboth, F. 1996, Applied Geography and Development, Volume 47 Institute

for Scientific Co-operation, tumbingen Federal Republic of Germany.

Lembaga Demografi, FEU I, 1981, Dasar-dasar Demografi FEUI, Jakarta.

Tji Suharyanto, P, Urbanisasi, Surabaya Post, 23

Posted November 10, 2010 by anasnurhuda354 in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: